Senin, 04 Mei 2015

Bisikan dari Bumi



Bisikan dari Bumi
Di sebuah kota terdapat salah satu kempleks yang bernama ‘Grün Gehäuse’ yang artinya Grün itu hijau, dan Gehäuse itu perumahan kalau dijadiin satu jadinya perumahan hijau yang diambil dari bahasa German.
Dari sebuah kompleks itu pula tinggallah lima orang yang bersahabat yang sangat akrab yaitu Vita, Nisa, Dini, Kevin, dan Joan. Wow, kebetulan juga ternyata mereka satu sekolah. Sekolah mereka di SMP 1 Vergroening. Oh iya, kok bisa SMP 1 Vergroening ya? ternyata ‘Vergroening’ itu berasal dari bahasa Belanda yang artinya yaitu penghijauan.
                                                                                                            ***
Seperti layaknya kompleks, kebanyakan kompleks itu hawanya panas, tidak ada pohon,  area kebun & taman bermain pun cukup sedikit bahkan tidak ada. Wah ternyata kompleks ini beda dengan kompleks-kompleks yang biasanya kita jumpai. Kalau yang ini kompleknya super deh... banyak pepohonan dipinggir jalannya seperti pohon cemara dan lidah mertua. Oh iya, ternyata lidah mertua itu  penting lho bagi udara di sekitar kita, karena lidah mertua membantu mengurangi polusi udara yang ada disekitar kita. Wow ternyata masih ada lagi lho tanaman yang dapat membantu mengurangi polusi udara contohnya yaitu peace lily, gerbera daisy, bamboo palm, dan masih banyak lagi, tetapi manusia sekarang sudah mulai asing lagi dengan tanaman-tanaman tersebut, menariknya lagi, semua tanaman itu pun juga hidup di kompleks kami. Supaya kami dapat membuat kompleks kami beda dengan komplek-komplek yang lain.
Selain itu juga kompleks kami juga mempunyai taman bermain. Selain untuk bermain, taman itu pun ditanami berbagai tanaman apotek hidup seperti kunyit, jahe, temulawak, kencur, masih banyak lagi deh sampai gak bisa aku sebutin semuanya, hehehe. Tanaman apotek hidup itu sangat berguna sekali bagi tubuh kita. Layaknya apotek yang selalu menyediakan obat-obatan, tanaman itu pula juga dapat menghasilkan obat dengan cara pengolahan tradisional. Enggak usah yang modern dulu deh selama masih ada yang tradisional kan lebih ramah lingkungan.
Pada suatu hari pula, aku, Nisa, Dini,Kevin , dan Joan pun berkumpul di taman yang ada di kompleks kami. Ternyata kami semua disuruh berkumpul di taman tersebut untuk membahas tugas kelompok yang diberikan oleh Pak William yaitu guru Biologi kami.
“ Memangnya apa sih tugas yang diberikan oleh Pak WiIliam kepada kita ?” aku bertanya-tanya.
“ O iya, ya Vit, kamu tadi enggak masuk sakit ya. Gini lho, untuk mengisi hari libur kakak kelas kita kelas 9 yang mau menghadapi ujian sekolah, tadi Pak Burhan menyuruh kita untuk membuat kelompok untuk menceritakan keadaan bumi kita saat ini, misalnya melihat-lihat sungai di sekitar kita, hutan-hutan yang ada di Indonesia, akibat rumah kaca, kendaraan-kendaraan bermotor jaman sekarang, dan pendingin ruangan seperti AC yang jaman sekarang mulai tidak bersahabat lagi. Itu semua kita harus membukukannya layaknya kliping, dan kliping itu harus jadi hari Senin yang akan datang, lalu kita juga disuruh mempresentasikan apa yang kita buat selama dua hari kemudian di depan kelas kita.”
Secepatnya kami memikirkan untuk pembuatan tugas tersebut. Tanpa menunda-nunda waktu lagi, akhirnya kami semua sepakat untuk mengerjakan tugas tersebut besok sepulang sekolah di rumah Joan.
Keesokan harinya setelah pulang sekolah. Aku pun langsung berangkat menuju rumah Joan akan tetapi aku menghampiri Nisa terlebih dahulu untuk berangkat bersama-sama setelah mereka bersamaan mereka pun juga menghampiri Dini. Sesampainya di depan rumah Dini.
 “ Dini, ayo kita berangkat. Jadikan?” kataku.
Aku dan Nisa pun hanya menemui Bang Kelvin, kakaknya Dini. Dengan ramah aku dan Nisa menanyakan keberadaan Dini. Setelah Bang Kelvin menjelaskan, ternyata Dini sudah pergi duluan menuju ke rumah Joan bersamaan dengan Kevin.
Sesampainya di depan rumah Joan. Aku dan Nisa pun bertemu dengan Dini dan Kevin. Nisa dan Dini pun sempat berdebat kecil-kecilan tetapi mereka ternyata bercanda, biasa kalau sahabat pasti bawaannya ingin sedikit bercanda.
Tingtong......tingtong..... bel rumah Joan pun terdengar setelah Kevin memencetnya. Klek..klek..klek... Joan pun membukakan pintunya.
“ Hey temen-temen. Silahkan masuk.” Sapa Joan.
“ Makasih Joan.” Jawabku.
“ The same too you my best friends” ujar Joan sambil menepuk pundakku.
“ Alamak... sok kali kau. Belagaknya Inggris-Inggris gitu.” Canda Dini.
“ Aduh... sakit tau Jo.” Sahutku terlihat kesakitan sehabis Joan menepuk pundakku.
Mereka pun mengerjakan tugas membuat kliping itu di teras rumah Joan. Disitu terlihat indah sekali. Karena, mamanya Joan suka mengoleksi tanaman hias untuk memperindah rumahnya. “ Wah, mamamu pecinta tanaman tho Jo?” ucap Dini.“ Wow, tanamanya bagus kereeen.” aku menyahut.
Sambil sibuk mengerjakan tugas itu. Tiba-tiba terdengar suara, dung...dung...dung... suara tukang es keliling kompleks pun mulai melintas di depan rumah Joan.
“ Temen-temen kalian haus enggak?” bisik Joan ketika mendengar suara itu.
“ Wah iya, ya Jo aku haus juga.” kataku sedikit membisik.
“ He’em seharian ngerjain tugas rasanya haus. Ya udah kita beli aja esnya. Cepat dipanggil sana.” Suruh Dini terburu-buru karena takut penjual es itu keburu jauh.
“ Pak, pak tunggu saya mau beli.” Panggil Jo dengan suara yang lantang.
“ Oke dik, saya kesitu.” Ujar Pak Kamit pedagang es keliling itu.
Sesudah membeli dan menikmati es yang di beli tadi, kami kembali mengerjakan tugas itu lagi. Emmmm.... ternyata teman-temanku juga ngak lupa sama apa yang harus mereka lakukan setelah memakan es tadi. Pastinya, mereka tidak lupa untuk membuang bungkus bekas es tadi kedalam bak sampah. Wah selain kompak mereka pun cinta lingkungan yaaa...
Pukul 15.00. Wah akhirnya pekerjaan kami pun sudah hampir selesai. Kami tinggal membuat daftar kelompok dan tugasnya masing-masing. Mempersingkat waktu, kami langsung menyelesaikannya hari ini juga. Setelah kliping kami sudah jadi semua, akhirnya hari Senin depan sudah bisa dipresentasikan.
Kami pun berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa kami saling menyapa ketika ingin pulang ke rumah masing-masing. Terdengar kata “ bye..bye” selalu kami ucapkan serentak. Tiba-tiba terdeengar tolelet..tolelet ternyata handphoneku pun berdering tanda ada telepone. Setelahku buka, ternyata ada SMS dari Pak William seperti ini “ Ini Vita kan? Ini dari Pak Burhan, kamu mewakili kelompok 1, tolong beri tahukan kepada teman-teman sekelompokmu lainnya, satu kliping itu harus disertakan 2 buah siap pakai kembali dengan bahan dasar yaitu barang bekas.” Ucap Pak William. Untungnya kliping kami sudah jadi berarti kami tinggal membuat  2 barang siap pakai itu. Segera aku mengirimkan kabar mendadak itu melalui SMS.
Keesokan harinya kami berkumpul kembali di sebuah taman yang berada di komplek kami, sebelumnya kami memang sudah janjian untuk berkumpul di sini. Selain berkumpul kami pun sendiri-sendiri juga membawa barang bekas dari rumah mereka masing-masing. Ada yang membawa koran bekas, kardus bekas, cat air bekas tugas seni rupa, lem sisa untuk membuat mading kelas yang lalu, dan benang bekas dari Bu Peni seorang penjahit di komplek mereka.
Kami berinisiatif untuk membuat tempat sampah dari kardus bekas tersebut lalu diberi sedikit hiasan untuk lebih menariknya. Memang tempat sampaah itu membuatnya sangat simpel dan sangat mudah. Tetapi kami membuat tempat sampah itu membuat pesan tersendiri agar selalu membuang sampah pada tempatnya.
Kurang satu barang lagi deh yang harus kami kerjakan. Kami pun membuat tas besar yang biasanya dipakai ibu-ibu untuk berbelanja kepasar dengan mengunakan plastik bekas makanan ringan, tangan Nisa terlihat lues ketika menjahit agar plastik-plastik itu bersatu.. Dari situ kami juga berinisiatif agar sebaiknya kita selalu membawa wadah sendiri dari rumah supaya dapat mengurangi sampah-sampah plastik yang ada dimasa kini, karena sampah plastik itu hanya dapat terurai dalam jangka waktu yang sangatlah lama.
Hari Senin pun telah tiba itu saatnya kami mempresentasikan hasil kerja kami selama satu minggu ini. Kami mulai dari sungai-sungai yang kami amati saat ini sudah mulai tercemar, hutan Kalimantan yang termasuk paru-paru bumi pun mulai rusak padahal hutan itu mengandung 50% oksigen dan oksigen itulah yang kita butuhkan untuk bernafas. Selain oksigen, dapat  juga menjadi sumber mata air bersih. Kendaraan bermotor pun semakin banyak. Dan di rumah-rumah atau pusat perbelanjaan banyak sekali yang menggunakan AC dan efek rumah kaca.
Kejadian itu semua dapat berpengaruh dengan bumi kita, terutama bagian ozon pelindung bumi kita yang lama kelamaan mulai menipis dan bolong sehingga tidak ada yang melindungi bumi kembali dari ancaman benda-benda luar angkasa yang sangat berpengaruh pada bagian reliaf bumi kita.
Menurut pendapat kami, solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dengan cara bersosialisasi terhadap sesama selain itu pula, melakukan reboisasi bersama, membuang sampah pada tempatnya, sering mengendarai kendaraan umum itu juga membantu mengurangi polusi udara saat ini, mengurangi penggunaan AC, dan menghindari pembangunan rumah dengan bahan dasar kaca. Mulailah dari diri sendiri aja deh..
Menurut Pak William presentasi kami sangat bagus kami semua mendapat nilai A+, kami senang sekali dan sangat bersyukur karena Tuhan telah membimbing kami saat mengerjakannya dan mempresentasikan. Tuhan selalu membimbing kita sema.
Jelang sebulan kemudian, kami disuruh untuk mewakili sekolah untuk mensosialisasikan lebih mendalam hasil kerja presentasi sebulan yang lalu kepada masyarakat sekitar lereng gunung Merapi, dalam rangka menjelang sekolah ‘Adiwiata Mandiri’ tahun 2012.
Selain mensosialisasikan hal-hal yang perlu diketahui oleh masyarakat sekitar, kami pun juga mengajak masyarakat untuk menanami pohon di lahan yang kosong sekitar lereng gunung Merapi. Masyarakat pun juga diajak untuk selalu membuang sampah pada tempatnya dan dapat mengolah sampah menjadi hal yang baru yang dapat dipergunakan kembali.
Tak lupa masyarakat pun mengucapkan trimakasih kepada kami berlima. Karena telah memberikan apa yang terbaik dan sangat bermanfaat bagi mereka, Indonesia, bahkan dunia.
Ayo temanku semua syangilah bumi kita dengan aktivitas yang kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mengolah sampah menjadi barang yang baru, dan mengurangi sampah yang ada dengan membawa kantong belanja dari rumah. Mulailah kegiatan ini dari diri kita sendiri dan negara kita sendiri yaitu Indonesia, hingga bumi kita ini. Mercy on earth begins with simple activities.

                                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar