Bisikan
dari Bumi
Di
sebuah kota terdapat salah satu kempleks yang bernama ‘Grün Gehäuse’ yang
artinya Grün itu hijau, dan Gehäuse itu perumahan kalau dijadiin satu jadinya
perumahan hijau yang diambil dari bahasa German.
Dari
sebuah kompleks itu pula tinggallah lima orang yang bersahabat yang sangat
akrab yaitu Vita, Nisa, Dini, Kevin, dan Joan. Wow, kebetulan juga ternyata
mereka satu sekolah. Sekolah mereka di SMP 1 Vergroening. Oh iya, kok bisa SMP
1 Vergroening ya? ternyata ‘Vergroening’ itu berasal dari bahasa Belanda yang
artinya yaitu penghijauan.
***
Seperti
layaknya kompleks, kebanyakan kompleks itu hawanya panas, tidak ada pohon, area kebun & taman bermain pun cukup
sedikit bahkan tidak ada. Wah ternyata kompleks ini beda dengan
kompleks-kompleks yang biasanya kita jumpai. Kalau yang ini kompleknya super
deh... banyak pepohonan dipinggir jalannya seperti pohon cemara dan lidah
mertua. Oh iya, ternyata lidah mertua itu
penting lho bagi udara di sekitar kita, karena lidah mertua membantu
mengurangi polusi udara yang ada disekitar kita. Wow ternyata masih ada lagi
lho tanaman yang dapat membantu mengurangi polusi udara contohnya yaitu peace
lily, gerbera daisy, bamboo palm, dan masih banyak lagi, tetapi manusia
sekarang sudah mulai asing lagi dengan tanaman-tanaman tersebut, menariknya
lagi, semua tanaman itu pun juga hidup di kompleks kami. Supaya kami dapat
membuat kompleks kami beda dengan komplek-komplek yang lain.
Selain
itu juga kompleks kami juga mempunyai taman bermain. Selain untuk bermain,
taman itu pun ditanami berbagai tanaman apotek hidup seperti kunyit, jahe,
temulawak, kencur, masih banyak lagi deh sampai gak bisa aku sebutin semuanya,
hehehe. Tanaman apotek hidup itu sangat berguna sekali bagi tubuh kita.
Layaknya apotek yang selalu menyediakan obat-obatan, tanaman itu pula juga
dapat menghasilkan obat dengan cara pengolahan tradisional. Enggak usah yang
modern dulu deh selama masih ada yang tradisional kan lebih ramah lingkungan.
Pada
suatu hari pula, aku, Nisa, Dini,Kevin , dan Joan pun berkumpul di taman yang
ada di kompleks kami. Ternyata kami semua disuruh berkumpul di taman tersebut
untuk membahas tugas kelompok yang diberikan oleh Pak William yaitu guru
Biologi kami.
“
Memangnya apa sih tugas yang diberikan oleh Pak WiIliam kepada kita ?” aku
bertanya-tanya.
“
O iya, ya Vit, kamu tadi enggak masuk sakit ya. Gini lho, untuk mengisi hari
libur kakak kelas kita kelas 9 yang mau menghadapi ujian sekolah, tadi Pak
Burhan menyuruh kita untuk membuat kelompok untuk menceritakan keadaan bumi
kita saat ini, misalnya melihat-lihat sungai di sekitar kita, hutan-hutan yang
ada di Indonesia, akibat rumah kaca, kendaraan-kendaraan bermotor jaman
sekarang, dan pendingin ruangan seperti AC yang jaman sekarang mulai tidak
bersahabat lagi. Itu semua kita harus membukukannya layaknya kliping, dan
kliping itu harus jadi hari Senin yang akan datang, lalu kita juga disuruh
mempresentasikan apa yang kita buat selama dua hari kemudian di depan kelas
kita.”
Secepatnya
kami memikirkan untuk pembuatan tugas tersebut. Tanpa menunda-nunda waktu lagi,
akhirnya kami semua sepakat untuk mengerjakan tugas tersebut besok sepulang
sekolah di rumah Joan.
Keesokan
harinya setelah pulang sekolah. Aku pun langsung berangkat menuju rumah Joan
akan tetapi aku menghampiri Nisa terlebih dahulu untuk berangkat bersama-sama
setelah mereka bersamaan mereka pun juga menghampiri Dini. Sesampainya di depan
rumah Dini.
“ Dini, ayo kita berangkat. Jadikan?” kataku.
Aku
dan Nisa pun hanya menemui Bang Kelvin, kakaknya Dini. Dengan ramah aku dan
Nisa menanyakan keberadaan Dini. Setelah Bang Kelvin menjelaskan, ternyata Dini
sudah pergi duluan menuju ke rumah Joan bersamaan dengan Kevin.
Sesampainya
di depan rumah Joan. Aku dan Nisa pun bertemu dengan Dini dan Kevin. Nisa dan
Dini pun sempat berdebat kecil-kecilan tetapi mereka ternyata bercanda, biasa
kalau sahabat pasti bawaannya ingin sedikit bercanda.
Tingtong......tingtong.....
bel rumah Joan pun terdengar setelah Kevin memencetnya. Klek..klek..klek...
Joan pun membukakan pintunya.
“
Hey temen-temen. Silahkan masuk.” Sapa Joan.
“
Makasih Joan.” Jawabku.
“
The same too you my best friends” ujar Joan sambil menepuk pundakku.
“
Alamak... sok kali kau. Belagaknya Inggris-Inggris gitu.” Canda Dini.
“
Aduh... sakit tau Jo.” Sahutku terlihat kesakitan sehabis Joan menepuk
pundakku.
Mereka
pun mengerjakan tugas membuat kliping itu di teras rumah Joan. Disitu terlihat
indah sekali. Karena, mamanya Joan suka mengoleksi tanaman hias untuk
memperindah rumahnya. “ Wah, mamamu pecinta tanaman tho Jo?” ucap Dini.“ Wow,
tanamanya bagus kereeen.” aku menyahut.
Sambil
sibuk mengerjakan tugas itu. Tiba-tiba terdengar suara, dung...dung...dung...
suara tukang es keliling kompleks pun mulai melintas di depan rumah Joan.
“
Temen-temen kalian haus enggak?” bisik Joan ketika mendengar suara itu.
“
Wah iya, ya Jo aku haus juga.” kataku sedikit membisik.
“
He’em seharian ngerjain tugas rasanya haus. Ya udah kita beli aja esnya. Cepat
dipanggil sana.” Suruh Dini terburu-buru karena takut penjual es itu keburu
jauh.
“
Pak, pak tunggu saya mau beli.” Panggil Jo dengan suara yang lantang.
“
Oke dik, saya kesitu.” Ujar Pak Kamit pedagang es keliling itu.
Sesudah
membeli dan menikmati es yang di beli tadi, kami kembali mengerjakan tugas itu
lagi. Emmmm.... ternyata teman-temanku juga ngak lupa sama apa yang harus
mereka lakukan setelah memakan es tadi. Pastinya, mereka tidak lupa untuk
membuang bungkus bekas es tadi kedalam bak sampah. Wah selain kompak mereka pun
cinta lingkungan yaaa...
Pukul
15.00. Wah akhirnya pekerjaan kami pun sudah hampir selesai. Kami tinggal
membuat daftar kelompok dan tugasnya masing-masing. Mempersingkat waktu, kami
langsung menyelesaikannya hari ini juga. Setelah kliping kami sudah jadi semua,
akhirnya hari Senin depan sudah bisa dipresentasikan.
Kami
pun berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa kami saling
menyapa ketika ingin pulang ke rumah masing-masing. Terdengar kata “ bye..bye”
selalu kami ucapkan serentak. Tiba-tiba terdeengar tolelet..tolelet ternyata handphoneku pun berdering tanda ada
telepone. Setelahku buka, ternyata ada SMS dari Pak William seperti ini “ Ini
Vita kan? Ini dari Pak Burhan, kamu mewakili kelompok 1, tolong beri tahukan
kepada teman-teman sekelompokmu lainnya, satu kliping itu harus disertakan 2
buah siap pakai kembali dengan bahan dasar yaitu barang bekas.” Ucap Pak
William. Untungnya kliping kami sudah jadi berarti kami tinggal membuat 2 barang siap pakai itu. Segera aku
mengirimkan kabar mendadak itu melalui SMS.
Keesokan
harinya kami berkumpul kembali di sebuah taman yang berada di komplek kami,
sebelumnya kami memang sudah janjian untuk berkumpul di sini. Selain berkumpul
kami pun sendiri-sendiri juga membawa barang bekas dari rumah mereka
masing-masing. Ada yang membawa koran bekas, kardus bekas, cat air bekas tugas
seni rupa, lem sisa untuk membuat mading kelas yang lalu, dan benang bekas dari
Bu Peni seorang penjahit di komplek mereka.
Kami
berinisiatif untuk membuat tempat sampah dari kardus bekas tersebut lalu diberi
sedikit hiasan untuk lebih menariknya. Memang tempat sampaah itu membuatnya
sangat simpel dan sangat mudah. Tetapi kami membuat tempat sampah itu membuat
pesan tersendiri agar selalu membuang sampah pada tempatnya.
Kurang
satu barang lagi deh yang harus kami kerjakan. Kami pun membuat tas besar yang
biasanya dipakai ibu-ibu untuk berbelanja kepasar dengan mengunakan plastik
bekas makanan ringan, tangan Nisa terlihat lues ketika menjahit agar
plastik-plastik itu bersatu.. Dari situ kami juga berinisiatif agar sebaiknya
kita selalu membawa wadah sendiri dari rumah supaya dapat mengurangi
sampah-sampah plastik yang ada dimasa kini, karena sampah plastik itu hanya
dapat terurai dalam jangka waktu yang sangatlah lama.
Hari
Senin pun telah tiba itu saatnya kami mempresentasikan hasil kerja kami selama
satu minggu ini. Kami mulai dari sungai-sungai yang kami amati saat ini sudah
mulai tercemar, hutan Kalimantan yang termasuk paru-paru bumi pun mulai rusak
padahal hutan itu mengandung 50% oksigen dan oksigen itulah yang kita butuhkan
untuk bernafas. Selain oksigen, dapat
juga menjadi sumber mata air bersih. Kendaraan bermotor pun semakin
banyak. Dan di rumah-rumah atau pusat perbelanjaan banyak sekali yang
menggunakan AC dan efek rumah kaca.
Kejadian
itu semua dapat berpengaruh dengan bumi kita, terutama bagian ozon pelindung
bumi kita yang lama kelamaan mulai menipis dan bolong sehingga tidak ada yang
melindungi bumi kembali dari ancaman benda-benda luar angkasa yang sangat
berpengaruh pada bagian reliaf bumi kita.
Menurut
pendapat kami, solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dengan cara
bersosialisasi terhadap sesama selain itu pula, melakukan reboisasi bersama,
membuang sampah pada tempatnya, sering mengendarai kendaraan umum itu juga
membantu mengurangi polusi udara saat ini, mengurangi penggunaan AC, dan
menghindari pembangunan rumah dengan bahan dasar kaca. Mulailah dari diri
sendiri aja deh..
Menurut
Pak William presentasi kami sangat bagus kami semua mendapat nilai A+, kami
senang sekali dan sangat bersyukur karena Tuhan telah membimbing kami saat
mengerjakannya dan mempresentasikan. Tuhan selalu membimbing kita sema.
Jelang
sebulan kemudian, kami disuruh untuk mewakili sekolah untuk mensosialisasikan
lebih mendalam hasil kerja presentasi sebulan yang lalu kepada masyarakat
sekitar lereng gunung Merapi, dalam rangka menjelang sekolah ‘Adiwiata Mandiri’
tahun 2012.
Selain
mensosialisasikan hal-hal yang perlu diketahui oleh masyarakat sekitar, kami
pun juga mengajak masyarakat untuk menanami pohon di lahan yang kosong sekitar
lereng gunung Merapi. Masyarakat pun juga diajak untuk selalu membuang sampah
pada tempatnya dan dapat mengolah sampah menjadi hal yang baru yang dapat
dipergunakan kembali.
Tak
lupa masyarakat pun mengucapkan trimakasih kepada kami berlima. Karena telah
memberikan apa yang terbaik dan sangat bermanfaat bagi mereka, Indonesia,
bahkan dunia.
Ayo
temanku semua syangilah bumi kita dengan aktivitas yang kecil seperti membuang
sampah pada tempatnya, mengolah sampah menjadi barang yang baru, dan mengurangi
sampah yang ada dengan membawa kantong belanja dari rumah. Mulailah kegiatan
ini dari diri kita sendiri dan negara kita sendiri yaitu Indonesia, hingga bumi
kita ini. Mercy on earth begins with
simple activities.